Di tengah kebutuhan penguasaan bahasa asing yang semakin mendesak, pesantren tidak lagi hanya menjadi ruang pembelajaran keagamaan, tetapi juga ruang pembentukan kompetensi global. Berangkat dari semangat inilah, civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Mempawah tergerak untuk menghadirkan inovasi pembelajaran melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKm) di Pondok Pesantren Al-Qomar bertajuk ‘Developing English Daily Expressions of MA Al-qomar students to Support the Implementation of a Bilingual Environment in an Islamic Boarding school’ .
Inisiatif ini digagas oleh seorang dosen Program Studi Tadris Bahasa Inggris, Nur Azizah, M.Pd., yang melihat peluang besar untuk menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris secara lebih dekat dan alami dalam keseharian para santri. Alih-alih mengajarkan teori gramatika yang kaku, program ini dirancang sebagai respons terhadap kebutuhan akan lingkungan bilingual (dua bahasa) yang nyata di lingkungan pondok pesantren. Fokus utamanya adalah pada pengembangan English daily expressions atau ungkapan bahasa Inggris sehari-hari yang kontekstual, praktis, dan langsung relevan dengan aktivitas para santri. Mulai dari percakapan sederhana di asrama, diskusi saat belajar, hingga interaksi sosial di lingkungan pondok, semua menjadi ladang untuk mempraktikkan bahasa Inggris.
Adapun langkah pertama yang dilakukan dalam program ini ialah mengidentifikasi kebutuhan santri. Tim pengabdian dengan cermat menggali situasi dan rutinitas keseharian di Pesantren untuk menentukan ungkapan bahasa Inggris apa saja yang paling mungkin dan penting untuk digunakan. Hasil identifikasi ini kemudian menjadi fondasi dalam menyusun daftar ungkapan yang tidak hanya sesuai dengan konteks Islamic Boarding School tetapi juga mudah diingat dan diterapkan. Pendekatan berbasis kebutuhan ini menjadi kunci utama karena materi yang dikembangkan terasa dekat dengan kehidupan santri, sehingga mendorong keberlanjutan dalm penggunaan bahasa Inggris.
Sebanyak 39 siswa dan siswi Pondok Pesantren Al-Qomar terlibat aktif sebagai peserta dalam program ini. Mereka tidak hanya duduk mendengarkan pemaparan materi, tetapi langsung terjun dalam latihan percakapan, simulasi situasi nyata, dan praktik terbimbing. Antusiasme yang terpancar dari wajah-wajah peserta membuktikan bahwa metode pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan mampu meningkatkan motivasi belajar sekaligus kepercayaan diri santri untuk mencoba berkomunikasi dalam bahasa asing. Di sinilah peran penting Ibu Nur Azizah, M.Pd. sebagai narasumber sekaligus pendamping sangat dirasaka, beliau tidak hanya memberi contoh ungkapan dan mengoreksi praktik siswa, tetapi juga memberikan arahan strategis untuk membangun lingkungan bilingual yang sistematis di pondok pesantren. Lebih dari sekadar penguasaan bahasa, program ini menjadi wasilah atau jalan bagi para santri untuk menyiapkan diri berkiprah dan memberi manfaat di ranah global, membawa nilai-nilai keislaman yang luhur sekaligus kemampuan komunikasi universal untuk menjawab tantangan zaman.

