Seminar Dosen dan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah telah sukses dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Juni 2026 mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai bertempat di Aula Baitul Ghofar Pondok Pesantren Al Mukhlisin, yang beralamat di jalan Djohansyah Bakri RT 09 RW 06 Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat yang diikuti oleh sebanyak 30 peserta siswa kelas XI MA berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh antusiasme dari seluruh peserta yang hadir.
Seminar ini mengangkat tema “Menghidupkan Etika Salaf di Era Chat GPT, Menjaga Adab di Tengah Kecerdasan Buatan” dengan narasumber yaitu Ibu Sumiyati S.Pd.I, S.Sy, M.Pd.I (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah). Tema tersebut dipilih karena generasi muda saat ini hidup di tengah masifnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), sehingga diperlukan kesiapan iman, pemahaman adab, dan karakter yang kuat agar esensi pencarian ilmu secara Islami tidak tergerus oleh instanisasi teknologi. Dalam penyampaian materinya, pemateri menjelaskan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar proses transfer informasi atau menjawab soal dengan bantuan teknologi, tetapi juga menjadi sarana dalam membentuk akhlak, pola pikir, orisinalitas karya, dan ketundukan hati kepada Allah SWT dalam menuntut ilmu.
Sambutan Kepala Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al-Mukhlisin KH. Mulyadi Afwani S.Ag, M.Pd.I menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada dosen dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah yang telah melaksanakan kegiatan seminar di lingkungan pondok pesantren. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dalam menambah wawasan serta memberikan rambu-rambu moral kepada para siswa agar bijak dalam menggunakan teknologi kecerdasan buatan karena ilmu bukan sekedar informasi, Ilmu dalam Islam memiliki ruh, adab dan jalan tempuh dan ada suatu maqolah yang mengatakan “Al-Adabu Fauqo al-Ilm” bahwa adab itu lebih didahulukan daripada ilmu dan keduanya ini saling berkaitan.
Beliau mengatakan bahwa tabayyun menjadi kunci utama dalam menjaga adab keilmuan di era kecerdasan buatan. Sebagaimana ada satu maqolah dikatakan “Al-ilmu bil Mudzakarrah” Ilmu itu dengan muthalaah dan di ulang-ulang juga berharap kegiatan seminar edukatif seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar mampu memberikan dampak positif bagi para peserta didik. Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa kemudahan akses informasi melalui AI harus diimbangi dengan pendidikan karakter serta nilai-nilai agama agar generasi muda tidak kehilangan adab terhadap guru dan tidak terbiasa melakukan plagiarisme digital yang merusak moral intelektual.
Berdasarkan pemaparan narasumber, Ibu Sumiyati S.Pd.I, S.Sy, M.Pd.I menjelaskan bahwa generasi sekarang adalah generasi yang tumbuh berdampingan dengan AI dan model bahasa besar seperti ChatGPT. Generasi modern seperti saat ini banyak menggunakan AI untuk mencari jawaban dalam kecepatan mengakses data, kemudahan merangkum teks, serta efisiensi dalam belajar. Namun dalam hal lain, kemajuan teknologi ini membawa tantangan berupa hilangnya keberberkahan talaqqi apabila tidak diimbangi dengan etika menuntut ilmu (adab) yang dicontohkan oleh para ulama salafusshalih.
Beliau menegaskan bahwa kecerdasan buatan hanyalah alat bantu sebagai sarana pendukung belajar, bukan pengganti guru. Contohnya dalam merapikan catatan atau memperbaiki tulisan, karena AI tidak boleh dijadikan sandaran utama dalam memahami hal agama. Keberhasilan hakiki seorang penuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual hasil olahan mesin, tetapi dipengaruhi oleh keikhlasan, etika, kejujuran akademik, dan proses kesabaran dalam belajar langsung dari guru (talaqqi).
Berikut ada beberapa poin penting dalam menghidupkan etika salaf di era modern:
1. Menjaga Amanah Ilmiah: Tidak menyalahgunakan ChatGPT untuk melakukan kecurangan akademik seperti menyalin tugas secara utuh tanpa proses berpikir mandiri.
2. Menghormati Guru: Menyadari bahwa AI tidak memiliki ruh, keteladanan, dan keberkahan sebagaimana yang dimiliki oleh seorang guru/ustadz di dunia nyata.
3. Menyaring infomasi sebelum menyampaikan kepada orang lain: Tetap melakukan tabayyun (verifikasi) terhadap setiap informasi keagamaan atau sains yang dihasilkan oleh AI, karena teknologi bisa saja mengalami halusinasi atau kekeliruan data.
Narasumber juga menyampaikan bahwa ujian penuntut ilmu di zaman saat ini, bukan tidak adanya akses melainkan berlimpahnya akses yang justru bisa membuat seseorang merasa sudah tahu padahal belum benar-benar belajar. Banyak para riset menunjukkan bahwa ketergantungan pada AI melemahkan kemampuan berfikir mandiri. Dan para ulama pun sudah jauh-jauh hari mengingatkan bahwa ilmu yang tidak ditempuh dengan benar tidak akan menghasilkan buah yang seharusnya.
Setelah berlangsungnya pemaparan materi maka dilanjutkan dengan sesi tanya jawab , dan suasana seminar pun berlangsung dengan penuh antusiasme. Para peserta terlihat fokus mendengarkan penyampaian materi yang disampaikan dan turut berpartisipasi dalam sesi tanya jawab. Ada beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai batasan toleransi penggunaan ChatGPT dalam mengerjakan tugas sekolah serta cara menjaga konsentrasi belajar di tengah gempuran distraksi digital. Narasumber pun memberikan jawaban yang mudah dipaham sehingga peserta merasa lebih paham dan termotivasi untuk terus belajar, serta ber tabayyun, dan menjaga integritas diri. Di akhir sesi, para panitia pelaksana juga memberi pertanyaan dan hadiah kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan dengan benar.
