Sabtu, 25 April 2026. Seminar bertajuk “Stop Bullying: Berani Peduli, Berani Melindungi” sukses diselenggarakan oleh Dosen dan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah di Madrasah Aliyah Khairul Hikmah Mempawah sebagai bentuk kepedulian terhadap maraknya kasus perundungan, khususnya di lingkungan pelajar. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta pemahaman siswa tentang pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari tindakan bullying. Seminar ini diikuti oleh siswa dan guru yang memiliki perhatian terhadap isu perlindungan anak dan remaja.

Acara diawali dengan sambutan Muhammad Arif selaku ketua panitia penyelenggara yang menekankan bahwa bullying bukan sekadar candaan, melainkan tindakan serius yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental, emosional, bahkan masa depan korban. Dalam sambutannya, ketua panitia juga mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama mengambil peran aktif dalam mencegah dan menghentikan tindakan perundungan di lingkungan masing-masing.
Juga diperkuat dengan kata sambutan ustadz Muzakkir Lc. Beliau mengatakan sangat setuju dengan tema kami yaitu “stop bullying berani peduli berani melindungi”. Harapan nya pasti pertama, semoga dengan terlaksananya seminar ini menjadikan kita insan yang lebih menjaga dari segi lisan dan perbuatan. Kedua, terlepas dari seminar tadi dan tidak keluar dari ruangan tersebut melainkan jiwa kita bisa stop membullying dan sangat menafikan yang kaitannya dengan hal tersebut. Ketiga, semoga menjadi wasilah dengan terlaksananya acara tadi menjadikan kita insan yg Aqil ( berakal ) dan masuk di golongan AN’AMTA ALAIHIM dan tidak masuk di golongan yang kedua GHAIRIL MAGHDU BIALAIHIM.

Seminar ini menghadirkan Haris Rosi S.H.,MH, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Mempawah sebagai narasumber yang memaparkan berbagai materi penting, mulai dari pengertian bullying, jenis-jenis bullying seperti fisik, verbal, sosial, hingga cyberbullying, serta dampak jangka pendek dan jangka panjang yang dapat dialami korban. Dijelaskan pula bahwa korban bullying sering mengalami penurunan kepercayaan diri, gangguan kecemasan, kesulitan bersosialisasi, hingga prestasi akademik yang menurun.

Tidak hanya berfokus pada korban, seminar ini juga membahas peran pelaku, saksi, serta lingkungan sekitar. Peserta diajak memahami bahwa sikap diam terhadap bullying dapat memperparah situasi. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memiliki keberanian dalam bersikap peduli dan melindungi korban dengan cara yang bijak, seperti melaporkan kepada pihak yang berwenang, memberikan dukungan moral, serta menciptakan budaya saling menghargai.

Para peserta tidak hanya memahami bahaya bullying, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Dengan menanamkan nilai empati, kepedulian, dan keberanian, diharapkan tercipta generasi muda yang lebih berani untuk melawan tindakan perundungan.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya, berbagi pengalaman, serta berdiskusi langsung dengan narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, terutama terkait cara menghadapi bullying di lingkungan sekolah maupun media sosial.
Dengan mengusung semangat “Berani Peduli, Berani Melindungi,” seminar ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam menekan angka bullying serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif, aman, dan penuh rasa saling menghormati di tengah masyarakat.